Pendidikan
dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan. Tujuan dapat diartikan sebagai
suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan siswa setelah
melaksanakan pengalaman belajar (Sadirman, 2004). Tercapai tidaknya suatu
tujuan tersebut, bisa terlihat dari prestasi belajar atau hasil belajar yang
diraih siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi siswa adalah
motivasi. Dengan adanya motivasi, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan
memiliki konsentrasi penuh dalam proses belajar mengajar. Dorongan motivasi Biggs
dan Tefler (dalam Dimyat i dan Mudjiono, 2006) mengungkapkan motivasi belajar siswa
dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan
melemahkan kegiatan, sehingga mutu prestasi belajar akan rendah. Oleh karena itu,
mutu prestasi belajar pada siswa perlu diperkuat terus-menerus. Dengan tujuan agar
siswa memiliki motivasi belajar yang kuat, sehingga prestasi belajar yang
diraihnya dapat optimal.
Menurut
Clayton Alderfer (dalam Nashar, 2004:42) Motivasi belajar adalah kecenderungan siswa
dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai
prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin. Motivasi dipandang sebagai dorongan
mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku
belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan,
menyalurkan dan mengarahkan sikap serta peri laku pada individu belajar (Koeswara,
1989 ; Siagia, 1989 ; Sehein, 1991 ; Biggs dan Tefler, 1987 dalam Dimyati dan Mudjiono,
2006). Dari beberapa pengertian diatas, kita dapat menyimpulkan bahwasannya
motivasi adalah suatu dorongan yang ada dalam diri seseorang, dengan melakukan
suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Didalam
belajar kita sering kali mengalami kemalasan dalam belajar, hal itu disebabkan
karena merendahnya motivasi belajar dari siswa. Untuk peningkatan motivasi
belajar menurut Abin Syamsudin M (1996) yang dapat kita lakukan adalah mengidentifikasi
beberapa indikatoryna dalam tahap-tahap tertentu. Indikator motivasi antara
lain: 1) Durasi kegiatan, 2) Frekuensi kegiatan, 3) Presistensinya pada tujuan
kegiatan, 4) Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi kegiatan dan
kesulitan untuk mencapai tujuan, 5) Pengabdian dan pengorbanan untuk mencapai
tujuan, 6) Tingkatan aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang
dilakukan, 7) Tingkat kualifikasi
prestasi, 8) Arah
sikapnya terhadap sasaran
kegiatan. Dengan indikator dalam tahap-tahap tersebut, maka kita bisa meningkatkan
motivasi kita dengan suatu usaha sadar, yaitu belajar.
Poerwanto
(2007) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “ hasil yang dicapai oleh
seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport” Selanjutnya
Winkel (1997) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti
keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan
belajar sesuai dengan bobot yang dicapainya” Sedangkan menurut Nasution, S (1987)
prestasi belajar adalah “ kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir,
merasa dan berbuat, prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga
aspek yakni: kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi
kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria
tersebut”. Dari penjabaran diatas kita dapat menyimpulkan bahwasannya prestasi
belajar adalah suatu hasil dari usaha belajar yang telah kita lakukan, yang
dapat diukur dengan menggunakan suatu acuan atau patokan yaitu indikator
Menurut
Suryabrata (1989:142), faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil belajar digolongkan menjadi tiga, yaitu: faktor dari
dalam, faktor dari luar, dan faktor instrumen. Faktor dari dalam yaitu
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar yang berasal dari siswa yang
sedang belajar. Faktor-faktor ini diantaranya adalah: (a) minat individu
merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu. Minat belajar siswa yang
tinggi menyebabkan belajar siswa lebih mudah dan cepat (b) motivasi belajar
antara siswa yang satu dengan siswa lainnya tidaklah sama. Motivasi belajar
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antaralain: cita-cita siswa, kemampuan
belajar siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan, unsur-unsur dinamis dalam
belajar, dan upaya guru membelajarkan siswa. Faktor dari luar yaitu faktor-faktor
yang berasal dari luar siswa yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Faktor-faktor ini di antaranya adalah lingkungan sosial. Salah satu dari
lingkungan sosial tersebut yaitu lingkungan siswa di sekolah yang terdiri dari
teman sebaya, teman lain kelas, guru, kepala sekolah serta karyawan lainnya
yang dapat juga mempengaruhi proses dan hasil belajar individu. Faktor
instrumen yaitu faktor yang berhubungan dengan perangkat pembelajaran seperti
kurikulum, struktur program, sarana dan prasarana pembelajaran (media
pembelajaran), serta guru sebagai perancang pembelajaran. Dalam penggunaan
perangkat pembelajaran tersebut harus dirancang oleh guru sesuai dengan hasil
yang diharapkan. (sumber: heritl.blogspot.com/2007/12/belajar-dan-motivasinya).
Berdasarkan hal di atas faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa
baik itu faktor dari dalam, luar, maupun instrumen yang paling utama adalah
minat, motivasi, dan guru.
Dari
penjabaran diatas kita dapat menyimpulkan bahwasannya motivasi belajar itu
sangat penting sekali dalam penentuan prestasi belajar. Hal itu diperkuat
dengan analisis dalam suatu penelitian (Oleh: Ghullam Hamdu, Lisa Agustina, Dosen
Universitas Pendidikan Indonesia) yang menunjukkan bahwa motivasi belajar itu besar
pengaruhnya terhadap prestasi belajar IPA dari siswa. Sehungga sebagaimana yang
diungkapkan oleh Keller (dalam Nashar, 2004:77) bahwa prestasi belajar dapat
dilihat dari terjadinya perubahan hasil masukan pribadi berupa motivasi dan
harapan untuk berhasil. Peningkatan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak
faktor salah satunya adalah motivasi untuk belajar. Hasil penelitian itu juga
menginformasikan terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi terhadap
prestasi belajar siswa. Hal ini berarti bahwa jika siswa memiliki motivasi
dalam belajar, maka prestasi belajarnya pun akan baik (tinggi). Sebaliknya jika
siswa memiliki kebiasaan yang buruk dalam belajar, maka prestasi belajarnya pun
akan buruk (rendah).
Faktor
yang paling utama yang menentukan apakah siswa akan berminat dan termotivasi
untuk belajar adalah faktor dari guru sendiri. Karena guru sebagai fasilitator
harus mampu memilih dan mengolah metode, strategi dan motif mengajar yang dapat
meningkatkan minat dan motivasi belajar para siswa dan guru terlibat langsung
dalam proses belajar-mengajar (Keke T. Aritonang.).
Daftar Pustaka :
-
Jurnal Pendidikan Penabur - No.10/Tahun
ke-7/Juni 2008, oleh Keke T. Aritonang.
“Minat dan Motivasi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”
-
Jurnal
Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1,
April 2011, oleh Ghullam Hamdu, Lisa Agustina (Dosen Universitas
Pendidikan Indonesia). “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Pestasi
Belajar Ipa Di Sekolah Dasar”






